Kecemasan Melanda Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Kala Pandemi

Kecemasan Melanda Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Kala Pandemi

Gusti Firmansah

NIM. 1401620073

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas B

Universitas Negeri Jakarta

Tulisan ini ditunjukkan guna memenuhi Ujian Akhir Semester 

Mata kuliah Dasar-Dasar Komputer yang diampu oleh Bapak Raharjo, S.Pd., M.Si



    Sejak 2 maret 2020, Presiden Republik Indonesia  Joko Widodo mengumumakan adanya kasus virus Covid-19 di Indonesia, berbagai kebijakan dibuat oleh pemerintah demi menekan penyebaran virus tersebut, salah satunya Work From Home (WFH) yang berarti melakukan pekerjaan dari rumah. Hal ini berdampak terhadap bidang pendidikan khususnya di tingkat universitas, para mahasiswa diharuskan belajar secara online di rumah.

    Salah satunya adalah Mahasiswa yang berkuliah di Universitas Negeri Jakarta. Letak kampus yang berada di Ibukota Indonesia termasuk zona merah penyebaran COVID-19. Sehingga semua mahasiswa diwajibkan untuk belajar dari rumah masing-masing. Hal ini tentu tidak mudah bagi sebagian mahasiswa yang memiliki masalah dalam beberapa hal, misalnya perangkat yang digunakan dan koneksi saat belajar online.

    Namun terdapat permasalahan  yang sering luput dari perhatian pemerintah, yaitu masalah kesehatan mental. Banyak mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental yang penyebabnya adalah belajar jarak jauh. Masalah ini perlu segera ditanggapi, sebab jika berlarut maka akan berakibat fatal.

    Dilansir dari promkes.kemkes.go.id Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

    Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain.

    Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk.

    Penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. oleh sebab itu, sudah saatnya kita menjalankan pola hidup sehat

    Terdapat beberapa jenis masalah kesehatan mental Salah satu yang sering terjadi adalah Gangguan Kecemasan, yang sangat bisa terjadi pada mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Survei yang telah dilakukan terhadap 80 mahasiswa Universita Negeri Jakarta dari berbagai fakultas menunjukkan bahwa mayoritas sudah mengalami gangguan kecemasan.

    Sebagaimana dilansir dari BBC.com, Yuko Nippoda, psikoterapis dan juru bicara Dewan Psikoterapi Inggris menyampaikan bahwa kecemasan umum juga merupakan masalah kesehatan mental yang sangat penting untuk diperhatikan

    Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-harinya.

    Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya timbul pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian di sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu.

    Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala psikologis lain yang bisa muncul pada penderita gangguan kecemasan adalah berkurangnya rasa percaya diri, menjadi mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.

    Sementara itu, gejala fisik yang mungkin menyertai masalah gangguan kecemasan antara lain:

    Sulit tidur, badan gemetar, mengeluarkan keringat secara berlebihan, otot menjadi tegang, jantung berdebar, sesak napas, lelah, sakit perut atau kepala pusing, mulut terasa kering, kesemutan

    Meski penyebab gangguan kecemasan belum diketahui secara pasti, beberapa faktor diduga dapat memicu munculnya kondisi tersebut. Di antaranya adalah trauma akibat intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di lingkungan luar ataupun keluarga.

    Faktor risiko lainnya adalah stres berkepanjangan, gen yang diwariskan dari orang tua, dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan noradrenalin di dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati. Gangguan kecemasan juga dapat dipicu oleh penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

     Banyak dampak yang ditimbulkan di tengah kasus pandemi virus Corona yang terus meningkat. Kerja hingga belajar saat ini dikerjakan dari rumah karena adanya imbauan stay at home dari pemerintah. Salah satunya berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Karena dapat berdampak pada gangguan kecemasan yang timbul akibat virus Corona yang tidak kunjung selesai.

    Diana Setiyawati, salah satu peneliti dari Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), mengatakan banyak mahasiswa yang butuh diperhatikan kesehatan mentalnya di tengah pandemi virus Corona.

    "Sebenarnya prediksinya 15 sampai 25 persen yang akan membutuhkan mental health attention. Jadi kalau ada 10.000 mahasiswa ya kira-kira 2.000 yang memerlukan mental health attention," kata Diana dalam webinar online, Kamis (16/4/2020).

    Berikut 7 penyebab gangguan kecemasan mahasiswa di tengah pandemi virus Corona menurut Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM):

1. Penyakit psikis sebelum masa pandemi COVID-19

Banyak mahasiswa yang memiliki penyakit psikis. Terlebih dengan adanya virus Corona semakin membuat hal ini bisa berdampak pada gejala gangguan kecemasan.

"Sebenarnya cukup banyak mahasiswa yang sebelumnya sudah memiliki depresi dan kecenderungan bunuh diri," kata Diana.

2. Penyakit fisik

Tidak hanya pada psikis, penyakit fisik juga menjadi salah satu gejala yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan pada mahasiswa. Diana mengatakan penyakit fisik dapat rentan terhadap COVID-19 karena bisa menimbulkan kecemasan yang lebih.

3. Kondisi ekonomi

Salah satu faktor yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan pada mahasiswa yakni faktor ekonomi. Karena di tengah pandemi ini, banyak penghasilan dalam keluarga yang hilang, yang membuat berkurangnya uang saku.

"Terpenuhinya kebutuhan pokok itu menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin mental health mereka (mahasiswa)," lanjut Diana.

4. Kondisi fisik lingkungan

Banyak mahasiswa yang ngekost disaat melakukan kuliahannya. Kondisi ini bisa memicu timbulnya gejala kecemasan. Misal kamar kos yang sempit membuat mahasiswa bingung untuk melakukan kegiatan. Terlebih pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sebagian wilayah yang mengharuskan untuk tetap tinggal di rumah.

5. Kondisi studi

Deadline, tugas kuliah yang menumpuk menjadi tekanan yang lebih terhadap mahasiswa. Banyak dosen yang mengartikan kuliah online untuk memberikan tugas yang menumpuk. Hal ini dapat menimbulkan gejala kecemasan pada mahasiswa.

6. Fasilitas belajar tidak memadai

Salah satu hal yang membuat gejala kecemasan pada mahasiswa karena tidak adanya fasilitas yang memadai. Pandemi virus Corona membuat kegiatan kuliah beralih menjadi online. Tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan pembelajaran secara online.

"Fasilitas pembelajaran yang tidak memadai, laptop mati, gadget tidak standar," ungkap Diana.

7. Tekanan psikis akibat konflik

Terakhir tekanan psikis karena konflik juga dapat menimbulkan kecemasan pada mahasiswa di tengah pandemi ini. Baik konflik internal dalam keluarga maupun dengan di dalam pertemanan.

"Konflik dengan teman dengan orang tua. Ada juga kasus karena tidak nyaman harus di rumah karena terjadi kekerasan," tutupnya.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat Ali bin Abi Thallib Bagi Penuntut Ilmu

Ibadah Ramadhan yang bisa dilakukan di rumah aja

Syarat-syarat Wajib Puasa Ramadhan